Title

Howard Schultz: Meracik Kepemimpinan Sehangat Kopi

Menguarnya aroma kopi yang khas dari jaringan yang mendunia, ada spesifik yang menarik untuk diulas. 
Adalah seorang penikmat dan pecinta kopi yang memiliki kepercayaan penuh bahwa bisnis bukan sekedar transaksi uang , - tapi juga sangat mengandalkan transformasi manusia
Howard D. Schultz, mantan CEO Starbucks, yang lahir dan tumbuh dari keluarga sangat sederhana di Brooklyn. 
Kenangan pahit yang ia alami ketika ayahnya kehilangan pekerjaan akibat insiden kecelakaan, sangat membekas dalam hidupnya. 

Di tahun 1960, Fred Schultz yang berprofesi sebagai sopir truk,  mengalami kecelakaan kerja saat memanggul beban berat dibelakang truknya sehingga menyebabkan  patah kaki dan harus berhenti bekerja sebagai sopir selamanya. Malangnya, Shultz senior tidak menerima jaminan asuransi apapun, dan ini tentu menjadi pukulan telak bagi keluarga sederhana ini. 

Saat itu Howard masih berusia tujuh tahun, dan Ia mulai bekerja di usia 12 tahun, bekerja serabutan mulai dari loper koran hingga menjadi penjaga toko. Di tengah kehidupan yang sulit, dia hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pengalaman itu membekas, menjadi bara yang kelak menyalakan visinya: membangun perusahaan yang memanusiakan manusia.

Ketika memimpin Starbucks, Schultz tidak hanya menciptakan tempat minum kopi, tetapi ruang harapan. Ia memperlakukan staf bukan sebagai karyawan, melainkan sebagai mitra. Ia percaya bahwa setiap orang berhak bermimpi besar, dan tugas pemimpin adalah membuka jalan, bukan menghalangi.

🎓 Langkah Berani: Pendidikan Gratis untuk Staf Pada tahun 2014, Schultz meluncurkan Starbucks College Achievement Plan, bekerja sama dengan Arizona State University. Program ini:

  • Memberikan biaya kuliah gratis bagi staf paruh waktu dan penuh waktu di AS.
  • Tidak mengikat mereka dengan kontrak setelah lulus.
  • Menjadi simbol bahwa masa depan seseorang tidak ditentukan oleh latar belakangnya, tetapi oleh kesempatan yang diberikan.

🌱 Kepemimpinan yang Melayani Schultz dikenal sebagai pemimpin yang mengusung servant leadership—kepemimpinan yang melayani. Ia membina budaya kerja yang inklusif, penuh rasa hormat, dan mendukung pertumbuhan pribadi. Starbucks di bawahnya menjadi cermin bahwa bisnis bisa sukses tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

📚 Referensi Jurnal dan Buku

  • Servant Leadership. Case Study–Starbucks, oleh Ioanna Dimitrakaki, dalam International Journal of Management and Humanities, Vol. 9, Issue 6, 2023. Baca di sini
  • Transformational Leadership of Howard Schultz, dalam buku terbitan Edward Elgar Publishing. Lihat bab terkait
  • Artikel Forbes: Starbucks’ Big Plan To Fund Employees’ College Education, oleh Barbara Thau. Baca di sini

Explore juga kisah berikut : Kisah Kepemimpinan Cheryl Bachelde